Siswa Kurang “Trampil” Tidak Bisa Di Sekolah Unggulan?

      Comments Off on Siswa Kurang “Trampil” Tidak Bisa Di Sekolah Unggulan?

Ada dua kata problematik dalam judul tulisan aku. Pertama kata ” piawai”. Aku termasuk tak sependapat dengan pengertian piawai yang diyakini kebanyakan orang (baca : ayah dan bunda siswa). Biasanya piawai cuma diistilahkan tingginya kesanggupan kognitif. Misal, disamakan dengan tingginya skor-skor pembelajaran sekolah. Lebih spesifik lagi piawai disamakan dengan skor pembelajaran sains atau ilmu pengetahuan alam (IPA) tinggi. Jadi, kampiun dunia atletik lari 100 meter Muhammad Zohri mungkin tak dianggap piawai oleh kebanyakan orang. – st monica school jakarta

Aku juga agak pesimis, mungkin tak terlalu banyak. Apabila tak berharap mengatakan tak ada. Tua yang sengaja menyiapkan buah hatinya menjadi atlet atletik nasional. Istilah “piawai” dan ” unggulan” Jadi istilah “piawai” telah dimonopoli. Sedangkan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti piawai terampil mampu, jenius trampil (menjalankan atau menjalankan sesuatu). Jadi, berdasarkan aku Zohri tak cuma piawai, tetapi betul-betul piawai dalam hal atletik, secara khusus cabang lari 100m. Istilah problematis kedua yaitu istilah “unggulan”.

Kebetulan aku termasuk mujur dapat merasakan belajar di sekolah unggulan. Tak cuma unggulan, tetapi sebagai alumnus (seperti hampir segala alumnus yang lain) menganggapnya sebagai sekolah terbaik di kawasan Vorstenlanden, tanah raja-raja. Memang secara sah bagus secara input (skor ujian akhir SMP), ataupun output (banyaknya siswa yang diterima di perguruan tinggi ternama) SMUN 3 Jogja “cuma” berada di urutan dua. Melainkan secara tak sah aku mengganggapnya sekolah aku jauh lebih kece, lebih keren, dus telah mesti jadi yang terbaik. Nah, di spot ini masalahnya. Soal sekolah unggulan Kita menganggap ada sekolah bagus, ada sekolah kurang bagus, dan mungkin ada juga sekolah yang tak bagus.

Lama-lama aku jadi agak skeptis dengan keyakinan aku itu. Jangan-jangan output SMU kami yang hebat itu, dikarenakan inputnya juga tinggi. Bukan sebab kwalitas pendidikannya. Aku jadi penasaran, bagaimana bila suatu waktu di SMU aku tadi cuma mendapatkan buah hati-buah hati dengan skor ujian akhir SMP sedang-sedang saja atau malahan rendah. Apakah outputnya akan sama? Apabila iya, berarti memang SMU aku benar-benar hebat.

Kemudian timbul lagi pertanyaan, apakah SMU aku dibilang unggulan “cuma” sebab lulusannya dapat diterima di universitas ternama? Bagaimana bila indikatornya dijadikan lebih jauh lagi? Contohnya, lulusannya menjadi pribadi-pribadi berkhasiat dan membangun lingkungan sekitar? Itu berarti SMU aku luar umum hebat! Sekolah unggulan versus tak unggulan ini yang baru-baru ini hangat diperbincangkan, apalagi bila telah bicara kebijakan zonasi. Secara sekolah negeri.

 

 

Baca Juga Info Terbaik : St Monica Kelapa Gading